GENERASI MILENIAL, PEMBAHARU SEMANGAT NASIONAL

Penulis : Dian Eka Lestari, M.Pd.I*

Seperti yang dikutip dari artikel Hasanuddin Ali, Founder and CEO Alvara Research Center bahwa generasi milenial adalah terminologi generasi yang saat ini banyak diperbincangkan oleh banyak kalangan di dunia diberbagai bidang, apa dan siapa gerangan generasi milenial itu?. Peneliti sosial sering mengelompokkan generasi yang lahir diantara tahun 1980 an sampai 2000 an sebagai generasi milenial. Jadi bisa dikatakan generasi milenial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia dikisaran 15 – 34 tahun. Studi tentang generasi milenial di dunia, terutama di Amerika, sudah banyak dilakukan, di antaranya studi yang dilakukan oleh Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Berkley tahun 2011 dengan mengambil tema American Millennials: Deciphering the Enigma Generation. Tahun sebelumnya, 2010, Pew Research Center juga merilis laporan riset dengan judul Millennials: A Portrait of Generation Next. Mengapa generasi milenial dirasa penting untuk diteliti? Karena mereka memegang kendali di masa depan bahkan masa sekarang, kita lihat saja usia produktif di Indonesia bisa dikatakan berkisar antara usia 20-40 tahun. Sehingga pergerakan di segala sektor baik itu ekonomi, pendidikan, pemerintahan sebagian besar dipegang oleh generasi milenial atau yang mungkin lebih sering kita sebut dengan pemuda.

Berbicara mengenai generasi milenial yang sebagai pembaharu Indonesia, penentu masa depan bangsa ini. Saya mengutip dari mantan menteri pendidikan Indonesia, Anies Baswedan, “pemuda itu tidak memiliki pengalaman, jadi mereka tidak menjanjikan masa lalu tapi menjanjikan masa depan”. Oleh karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik mereka pelajar, pekerja, wirausaha, karyawan dan lain sebagainya merupakan faktor penting yang sangat diandalkan oleh Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bangsa karena inilah ujung tombak bangsa kita berubah. Seperti yang juga pernah dikatatakan Soekarno ”Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia”. Soekarno memang tidak hanya sekedar pandai berbicara tanpa tindakan nyata. Sejarah telah mencatat gaya berjalan pemuda Indonesia jaman dahulu dalam membebaskan negara. Bung Tomo, Bung Hatta, Soekarno, Sutan Sjahrir, dan lain-lain rela mengorbankan harta benda mereka, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka untuk kepentingan bersama, yaitu kemerdekaan Indonesia. Dalam arti tertentu, mereka sebenarnya tidak sala  bertindak saja, tapi mereka merumuskannya dengan hati-hati dan mengulasnya dengan melihat dampak yang akan timbul dari berbagai aspek. Pemuda jaman dahulu berpikir lebih rasional dan jauh ke masa depan.

Generasi muda saat ini sangat berbeda dengan generasi terdahulu dalam hal asosiasi atau sosialisasi, bagaimana cara berpikir dan bagaimana mengatasi masalah. Peran pemuda saat ini dalam sosialisasi masyarakat telah menurun drastis. Mereka lebih memilih kesenangan untuk dirinya sendiri dan lebih sering bermain dengan kelompok. Padahal di masa lalu pemudalah yang berperan aktif dalam keberhasilan kegiatan di masyarakat seperti acara keagamaan, hari kemerdekaan, pengabdian masyarakat dan lain-lain. Masyarakat masih membutuhkan pemuda yang memiliki kedewasaan intelektual, kreatif, percaya diri, inovatif, solidaritas sosial dan semangat nasionalisme dalam pembangunan nasional. Pemuda diharapkan bertanggung jawab dalam menumbuhkan kesatuan dan integritas Republik Indonesia, serta mempraktikkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila untuk menciptakan perdamaian, kemakmuran bersama dan harmoni antar bangsa. Jadilah penerus Soekarno dan Mohammad Hatta yang memiliki semangat tinggi dalam membangun bangsa. Memiliki rasa memiliki yang tinggi terhadap tanah kelahirannya, dan tidak rela bila negaranya menjadi jajahan bagi negera lain, sementara generasi muda saat ini, sepertinya bangga saat memakai produk impor, bangga menjadi karyawan di negeri orang, dan membiarkan begitu saja tanah kelahirannya menjadi ladang pangan bagi pihak luar, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang dijajah intelektualnya, dijajah kesejahteraan ekonominya, dan dijajah rasa nasionalismenya dengan cara yang amat halus. Pemuda sekarang terlalu sibuk mengkritisi kebijakan pemerintahannya, memusuhi pemimpin-pemimpin di negaranya, namun dengan bangga memamerkan barang impor dari Jepang miliknya, mereka lupa bahwa Jepang dulu adalah musuh negara.

Tidak perlu demonstrasi ataupun unjuk rasa, konvoi dan hal-hal seperti itu untuk menunjukkan bahwa pemuda kita memiliki semangat reformasi, namun dengan gagasan cemerlang dan dibuktikan dengan tindakan konkret yang bermanfaat bagi negara, nampaklah semangat reformasi sejati. Tak perlu mengkritisi segala hal untuk terlihat bahwa kamu kritis, tak perlu banyak mengoreksi sana-sini kebijakan yang ada, atau tak perlu menjadi netizen yang seperti tidak pernah puas dengan segala hal. Jadilah pemuda dan generasi yang mengkritik untuk membangun dan mengoreksi untuk memperbaiki, namun sebelum itu koreksilah dirimu sendiri dahulu, karena bisa jadi karena kita terlalu sibuk mengkritisi dan mengoreksi hal lain hingga kita lupa mengkritisi dan mengoreksi diri sendiri. Seperti pepatah Jawa yang bunyinya “ojo rumongso pinter, nanging pintero rumongso”, yang artinya “jangan merasa pandai, tapi pandailah merasakan (peka)”, maka jadilah pemuda Indonesia yang sibuk membenahi diri untuk negeri, sibuk berkreasi, serta berinovasi. Idemu saja kadang tak cukup untuk menjadi bermanfaat bagi yang lain. Karena yang dibutuhkan adalah pemuda yang bergerak, pemuda yang bertindak, bukan yang hanya pandai berkoar-koar di jalanan atau bahkan di dunia maya saja. Bangkitlah generasi milenial Indonesia, jadilah yang muda bukan hanya usianya, namun juga muda inovasinya, kratifitasnya, namun tetap matang intelektualnya. Bangunlah negeri ini dengan tindakan nyata yang mampu memotivasi generasi milenial lain di negeri ini. Bangunlah generasi milenial, karena engkaulah pembaharu semangat nasional.

Kategori: artikel dosen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *