STITAF Turut Serta Deklarasikan Nilai Humanisme Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0


Salah satu rangkaian kegiatan Global Summit of University  Leader (GSoUL) 2019 yang diselenggarakan oleh UNISMA selama 3 hari mualai tanggal 27 s.d 29 Maret 2019 adalah Declaration of Word University Leader. Deklarasi dipimpin oleh Rektor UNISMA, Prof. Dr. Masykuri, M.Si. Dan diiringi oleh Rektor dan pimpinan perguruan tinggi dari 14 negara di dunia. Poin utamanya adalah menjunjung tinggi kemanusiaan dalam menghadapi revolusi industri 4.0,  kampus harus mampu membuat program kreatif yang berbasis teknologi dan tetap menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Momen besar yang dilaksanakan pada hari Selasa, 27 Maret 2019 itu dihadiri oleh 39 delegasi dari 14 negara dan lebih dari 80 rektor dan ketua Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Turut serta dalam deklarasi tersebut, ketua STIT Al Fattah Lamongan Nur Zaini, M.S.I. Kandidat doktor UIN Sunan Ampel Surabaya, yang baru satu bulan menjabat sebagai ketua ini, berkomitmen untuk meningkatkan kualitas  STIT AL-FATTAH dengan salah satunya adalah membangun akses komunikasi dan jaringan kerjasama dengan perguruan tinggi, baik dalam maupun luar negeri.

Hadir pula Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI Prof. H. Muhammad Nasir, Ph.D, Ak. Dia terpukau dengan peserta yang hadir dan memenuhi gedung tempat forum GSoUL. Sambil berjalan menuju kursi VVIP, beliau menyalami beberapa rektor dan ketua perguruan tinggi dan tampak nyaman berbincang dengan rektor dari dalam maupun luar negeri. Mantan rektor Undip ini kemudian mengajak rektor dan perwakilan kampus menyepakati tiga hal. Tiga hal ini juga yang menjadi fokus Kemenristekdikti dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Pertama adalah berkaitan dengan literasi. Menurutnya, kampus harus meningkatkan literasi tentang teknologi dan tentang kemanusiaan. Majunya teknologi ditandai dengan majunya ilmu pengetahuan yang dibawa oleh manusia itu sendiri. Dengan literasi manusia, akan lahir poin kedua yakni kejujuran sebagai insan akademik. Nasir menambahkan, kejujuran sangat penting untuk menghindari mental karuptif. Kejujuran menjadi sangat penting bagi para akademisi, peneliti, dosen dan mahasiswa. Maka pendidikan anti korupsi harus diajarkan kepada mahasiswa. Ketiga adalah persoalan narkoba. Menurut pria kelahiran Ngawi ini, kampus harus terhindar dari narkoba. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari rusaknya moral generasi bangsa. Oleh karenanya, pria berusia 58 tahun ini menilai perkembangan teknologi menuju menuju revolusi industri 4.0 di Indonesia tidak akan mengesampingkan aspek kemanusiaan. “Dengan teknologi harus semakin baik. Jangan sampai kita memanfaatkan teknologi tapi merusak kemanusiaan kita.” Jelas alumnus UNDIP ini.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *